Ujian Naskah Disertasi, a.n. Saudari: Sesilia Anita Wanget (150130100020)

yang akan diselenggarakan pada :

  • H a r i : Jumat
  • Tanggal : 21 November 2014
  • Pukul : 13.00 - selesai
  • Tempat : Ruang Sidang Dekanat Lt.2 Fakultas Pertanian Unpad

Judul  :
“Keragaman Genetik dan Stabilitas Karakter Hasil serta korelasinya dengan Asam Lemak tak jenuh dan Isoflavon pada Kacang Tanah ( Arachis hypogaea L. )"

Berlin 1 Juli 2019,

Perubahan iklim Saat ini bukan lagi menjadi perdebatan tentang keberadaannya tetapi sudah menjadi permasalahan bersama antar komunitas, antar instansi, antar negara bahkan global untuk mendapat penanganan serius. Perubahan iklim (climate changes) merupakan salah satu fenomena alam dimana terjadi perubahan nilai unsur-unsur iklim baik secara alamiah maupun yang dipercepat akibat aktifitas manusia di muka bumi. Perubhan iklim yang terjadi saat ini membawa dampak buruk bagi pertanian di Indonesia khususnya untuk wilayah pesisir.

Menurut Prof. Tualar Simarmata Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran perubahan iklim ini menyebabkan naiknya permukaan laut dan berpengaruh langsung pada lahan-lahan sawah yang berada di pesisir pantai. Air laut yang masuk kedalam areal persawahan dapat menyebabkan tingkat salinitas sawah meningkat dan hal tersebut sangat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaan padi.
Untuk meminimalisir dampak perubahan iklim pada pertanian padi, Dr. Neni Rostini Dosen Fakultas pertanian Universitas Padjadjaran menjelaskan bahwa perlu beberapa strategi seperti pemilihan varietas unggul yang adaptif terhadap perubahan iklim, rekayasa teknologi budidaya yang ramah lingkungan, dan peningkatan kapasitas petani. Untuk melaksanakan strategi-strategi tersebut perlu dilakukan penelitian partisipatif yang melibatkan petani dan akademisi.

Penelitian dengan melibatkan petani telah dilakukan oleh Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran tahun lalu. Bersama JAMTANI—Jaringan Masyarakat Tani Indonesia—salah satu NGO pertanian yang berlokasi di Pangandaran, UNPAD melakukan kegiatan sekolah lapang petani. Kegiatan partisipatory riserach berjudul Climate Resilient Agriculture Investigation and Innovation Project—CRAIIP juga didukung oleh Universitas Terkemuka di Jerman yaitu Humboldt Universitaet zu Berlin melalui SLE—Center of Rural Depelopment. Hasil dari kegiatan tersebut cukup terasa manfaatnya bagi masyarakat. Melalui kegiatan tersebut terpilih varietas mendawak sebagai varietas dengan performa terbaik pada cekaman salinitas. Telah banyak petani di sekitar yang mengadopsi teknologi-teknologi pada kegiatan CRAIIP.

Kegiatan penelitian partisipatif perlu terus dikembangkan ucap Dr.rer.nat Ahmad Saufi, Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia Jerman. Sebagai negara berkembang Indonesia Perlu dukungan dari Negara maju seperti Jerman. “Pertukaran ilmu dan teknologi dari dua negara yang berbeda tentu akan sangat berguna”, pungkasnya.

Sebagai Negara berkembang biasanya Indonesia hanya menjadi negara penerima donasi dari negara maju. Hal tersebut perlu dirubah menurut Saufi. Kedepan Indonesia harus bisa memberikan kontribusi lebih ketika mejalin kerjasama dengan Negara lain. Mengetahui keberhasilan kegiatan CARIIP yang telah dilakukan, Saufi akan berupaya mewujudkan kolaborasi penelitian internasional yang telah dibangun oleh Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran.

 
By Arief Anshory Yusuf  on 

The rapid development of oil palm plantation has been helping the Indonesian economy in terms of export, economic growth and poverty reduction. However, it has side effect. First, it has contributed to the increasing rate of deforestation as some significant portion of the new oil palm land are converted from forested land. This is the tention to our enviroment. Secondly, because resource dependence tend to be associated with conflict, oil palm development can also create social tention and contribute to the occurrence of conflict.

Rashesh Shrestha and colleagues studied the extent to which palm oil development is associated with the occurrence of conflict. The finding of this study was presented in the SDGs seminar series on Friday, 26 April 2019, jointly hosted by SDGs Center and Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. Dr. Rashes is an economist at Economics and Research Institute of ASEAN and East Asia (ERIA) a think tank, funded by Japanese government based in Jakarta. The discussant of the paper was Dr. Ronnie Natawidjaja, a senior lecturer and researcher from UNPAD’s Faculty of Agriculture. The seminar was chaired by Dr. Ernah, lecturer of Faculty of Agriculture and Senior Researcher of the Economy and Environment Institute (EEI) INDONESIA.

In his presentation, Dr. Rashesh Shrestha and colleauges theorizes that the production technology of palm oil encourages violence by generating a predatory political economy. In spite of palm oil being a legal bulk commodity, its relatively capital-intensive nature, its labor organization requirements, and the oil palm lifecycle provide opportunities for multiple actors to engage in criminal and collusive practices aimed at capturing rents generated by the industry.

Using newly available panel data on the expansion of Indonesian palm oil plantation coverage from 2005 to 2014 derived from satellite imagery along with survey data aggregated to the subdistrict level, this study show that plantation expansion indeed generates an increased incidence of resource conflict. Using a panel estimation empirical strategy to control for subdistrict heterogeneity and variation over time, they find that the relationship between plantation expansion and conflict is increasing but non-linear over time.

To understand the causal mechanisms, the study also conducted qualitative investigations in several locations, interviewing members of local communities, plantation staff, police and government officials. We found three main patterns of violence, all intimately tied to the predatory political economy of palm oil: conflict over land use, inter-ethnic violence, and criminal or mafia violence, the last of which was the most significant.

Ronnie Natawidjaja argued that the narration of potential conflicts created by palm oil need to be anticipated with precaution because it may be added as intelectual arguments againts palm oil development. The study needs to be sharpened, among others, in terms of making sure that the conflicts are truly attributed to palm oil development and not to common development problems as conflicts are naturally not unique to the context of oil palm.

The seminar has provided new insights into the relationships between agrarian production technologies, political order, and violence. The event has also left homework for researchers working SDGs to think again the true benefit cost of oilpalm expansion in particular or natural resource intensive development in general. As the three pillar of SDGs: economy, social, and environment are equally important, managing potential tentions between these three pillars, particularly in the context of palm oil development are topics urgently need to be more researched for better policy recommendation.

Bertempat di Bale Sawala Unpad, pkl. 09.00 - 12.00 WIB sekitar 250 orang peserta yang terdiri dari Mahasiswa fakultas pertanian dan kedokteran, jajaran pimpinan dan staf Badan Karantina serta para Dosen dan pimpinan Fakultas Unpad memadati ruangan menghadiri kuliah umum mengenai Badan Karantina serta dilanjutkan dengan penandatanganan mou antara Rektor Unpad dan Kepala Badan Karantina Pertanian RI dan pks faperta dgn badan karantina. Berita terkait http://www.unpad.ac.id/2018/11/unpad-jalin-kerja-sama-dengan-badan-karantina-pertanian-ri/

[unpad.ac.id, 24/10/2018] Untuk mendukung kegiatan Tridarma Perguruan Tinggi, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran menjalin kerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan (UBT).

Dekan Fakultas Pertanian Unpad Dr Ir. H Sudarjat MP (kedua dari kiri) bersama Manajer Riset, Pengabdian Kepada Masyarakat, Inovasi dan Kerja Sama Faperta Unpad Dr.rer.pol Ernah, M.Si., (kiri) usai penandatanganan Perjanjian Kerja Sama dengan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan (UBT) Dr. Etty Wahyuni di kampus UBT, Tarakan, Senin (11/10) lalu

Perjanjian Kerja Sama antara kedua belah pihak ditandatangani oleh Dekan Fakultas Pertanian Unpad Dr Ir. H. Sudarjat, MP, dengan Dekan Fakultas Pertanian UBT Dr. Etty Wahyuni M.S,. M.P., di kampus UBT, Tarakan, Senin (11/10) lalu.

Pada kesempatan tersebut, Dekan Faperta Unpad mengungkapkan bahwa kerja sama ini bertujuan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan kolaborasi riset antar universitas.

Sementara itu, Manajer Riset, Pengabdian Kepada Masyarakat, Inovasi dan Kerja Sama Faperta Unpad Dr.rer.pol Ernah SP.,MSi. mengungkapkan bahwa kunjungan ke UBT tidak hanya untuk penandatanganan Perjanjian Kerjasama tetapi juga dalam rangka penjajakan perpanjangan nota kesepahaman antara Unpad dan Universitas Borneo Tarakan. Diharapkan kerja sama ini kedepannya akan berkesinambungan dan bermanfaat bagi kedua belah pihak.*

Rilis/art

 

 

Pengguna

Masuk