Ujian Naskah Disertasi, a.n. Saudari: Sesilia Anita Wanget (150130100020)

yang akan diselenggarakan pada :

  • H a r i : Jumat
  • Tanggal : 21 November 2014
  • Pukul : 13.00 - selesai
  • Tempat : Ruang Sidang Dekanat Lt.2 Fakultas Pertanian Unpad

Judul  :
“Keragaman Genetik dan Stabilitas Karakter Hasil serta korelasinya dengan Asam Lemak tak jenuh dan Isoflavon pada Kacang Tanah ( Arachis hypogaea L. )"

Jadwal rekruitmen TERAKHIR Senin, 9 april 2018.
Mahasiswa S1, S2
Lama pendampingan 2 bulan (April sd Mei)
Siap full di lapangan

Jadwal wawancara: 10 sd 11 April 2018
Jadwal bimtek: 14 April 2018
Penempatan: 15/16 April 2018 sd 15 Juni 2018

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[unpad.ac.id, 10/01/2018] Rektor Universitas Padjadjaran meresmikan masjid Al Amanah di Fakultas Pertanian Unpad, Jatinangor, Rabu (10/01). Peresmian ini dilakukan sebagai tanda telah selesainya proses renovasi masjid yang telah dilaksanakan sejak Februari 2017 lalu. Peresmian disaksikan oleh Dekan Faperta Dr. Ir. H. Sudarjat, M.P., beserta sejumlah dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa Faperta Unpad.

“Semoga apa yang kita jalankan hari ini, melakukan peresmian dari renovasi masjid di Fakultas Pertanian, akan menjadi fasilitasi bagi kita untuk dapat meningkatkan ibadah kita lebih baik lagi. Dan semoga dengan peningkatan ibadah itu akan lebih banyak kemaslahatan yang dapat kita berikan pada masyarakat,” harap Rektor saat meresmikan.

Ketua Panitiia Pembangunan masjid, Prof. Dr. Ir. Warid Ali Qosim, M.P., mengungkapkan bahwa masjid Al Amanah ini sudah berdiri sejak tahun 1980an, dan telah mengalami beberapa kali renovasi. Terakhir, renovasi dilakukan mulai Februari 2017, dimana pengerjaannya memakan waktu sekitar 320 hari.

“Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada para donatur, para alumni Fakultas Pertanian, para dosen, para tenaga kependidikan, dan alumni yang telah mengembangkan masjid ini,” ucap Prof. Warid.

Lebih lanjut Rektor berharap agar masjid tersebut dapat menjadi fasilitas ibadah bukan hanya bagi warga Faperta Unpad, tetapi juga oleh fakultas yang berada di sekitarnya. Masjid tersebut diharapkan dapat menjadi alat pemersatu warga Unpad, serta menjadi tempat syiar dalam membangun sikap dan karakter. Di masjid ini juga diharapkan dapat terbangun budaya akademik.

“Mudah-mudahan keberadaan masjid ini menjadi tempat kita untuk bersatu,” harap Rektor.

Sementara itu, Dekan Faperta Unpad Dr. Sudarjat mengungkapkan bahwa masjid Al Amanah Faperta Unpad ini merupakan masjid tertua di kampus Unpad di Jatinangor. Dengan demikian, keberadaannya harus tetap dipelihara dengan baik. Ia pun berharap, aktivitas di masjid ini dapat terus dikembangkan.

“Kalau masjid ini baik, dikelola dengan baik, aktivitasnya banyak, pasti kita semua kan mendapatkan rahmat,” ujar Dr. Sudarjat.*
Laporan oleh Artanti Hendriyana/am

 

 

Indonesia menuju kedaulatan dan swasembada pangan. Pencapaian itu tak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah tetapi dengan menggandeng akademisi dan bisnis.
Forum Dekan Fakultas Pertanian kembali menggelar pertemuan di Universitas Padjadjaran Bandung sebagai tindak lanjut pertemuan tahun lalu.

Bertempat di Gedung Graha Sanusi Unpad, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengajak para dekan untuk bersatu, bersinergi untuk merah putih. Sinergitas dengan akademisi diperlukan untuk menyumbangkan pemikiran dalam setiap langkah pelaksanaan.

"Egoisme sektoral tidak boleh dipelihara untuk pembangunan pertanian, sehingga butuh sinergi. Dengan bersinergi saya yakin persoalan pangan selesai, jika akademisi dan pemerintah bersinergi tidak hanya pangan, persoalan bangsa juga akan bisa diselesaikan," tegas Amran dalam keterangan tertulis Kementerian Pertanian, Selasa (16/5).

Dalam pertemuan lanjutan terpisah yang dilaksanakan di Excecutive Lounge Rektorat Unpad itu, Amran menantang para dekan fakultas pertanian untuk mengembangkan komoditi unggulan daerah, minimal dua komoditas. Caranya setiap daerah perwakilan dari dekan fakultas pertanian mencarikan bibit terbaik sesuai dengan daerahnya.

"Pemerintah akan membeli kemudian diberikan kembali gratis ke petani binaan akademisi. Pemerintah punya anggaran, saya minta didata produk unggulan masing-masing daerah, kami akan membiayai bibit gratis," papar Amran.

Beberapa dekan juga menyampaikan masalahnya dalam mengembangkan produk pangan di daerah masing-masing. Mulai dari pengajuan proposal hingga persoalan kebutuhan infrastruktur pertanian. Untuk sementara disepakati fokus kepada komoditas jagung dan bawang putih.

Di akhir pertemuan, kedua pihak menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) antara Forum Dekan Fakultas Pertanian dengan Badan Litbang Pertanian yang mewakili Kementerian Pertanian. Hal itu sebagai langkah komitmen untuk mendukung swasembada pangan. JawaPos.com

Penyerahan Surat pernyataan bermaterai kesanggupan menyelesaikan studi

Mahasiswa Faperta Unpad yang duduk di

  1. Semester 14 ( Program Sarjana ),
  2. Semester 8 ( Program Magister )
    • Angkatan 2013 yang belum Ujian Tesis
    • Angkatan 2014 dan 2015 yang belum Seminar Usulan Penelitan
  3. Semester 10 ( Program Doktor )
    • Angkatan 2012 yang belum Sidang Promosi Doktor,
    • Angkatan 2014 yang belum Seminar Usulan Penelitian
    • Angkatan 2015 yang belum Kualifikasi

agar membuat Surat pernyataan bermaterai ttg kesanggupan menyelesaikan studi paling lambat 14 Agustus 2017 serta kesiapan mengundurkan diri bila lewat batas waktu studi tsb.

#Penyerahan Surat Pernyataan paling lambat tanggal 16 Maret 2017 di SBA Dekanat Lt.2 Faperta Unpad

Silakan Unduh Format Surat Kesanggupan dibawah ini :

[Unpad.ac.id] Teknologi nano dapat berperan dalam pengendalian penyakit pada tanaman. Penelitian  inilah yang sedang digeluti Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Ir. Hj. Hersanti, M.P., melalui Academic Leaderships Grant (ALG) Unpad sejak tahun 2015 lalu.

Prof. Dr. Ir. Hj. Hersanti, MP. (Foto oleh: Dadan T.)*

Dr. Ir. Hj. Hersanti, MP. (Foto oleh: Dadan T.)*

Dalam penelitiannya itu, Prof. Hersanti memadukan partikel nano dengan mikroba antagonis, yaitu mikroba yang dapat menekan patogen pada tamanan. Prof. Hersanti sendiri lebih memfokuskan penelitiannya pada tanaman kentang, mengingat tanaman ini rentan diserang oleh patogen. Saat ini, juga belum ditemukan varietas kentang yang tahan terhadap berbagai penyakit.

“Karena kentang banyak masalahnya daripada tanaman yang lain. Sedangkan kentang juga merupakan salah satu komoditas holtikultura yang bernilai ekonomi tinggi dan banyak diminta oleh masyarakat,” ujar Prof. Hersanti.

Saat ini, pengendalian penyakit pada tanaman kentang lebih banyak menggunakan fungisida. Selain berbahaya bagi manusia apabila dikonsumsi, penggunaan fungisida juga dapat menimbulkan resistensi pada tanaman sehingga sudah tidak efektif dalam pengendalian penyakit tanaman. Penggunaan fungisida juga diyakini dapat berbahaya bagi air dan tanah di sekitarnya.

“Tidak hanya meracuni tubuh manusia, tetapi juga meracuni mikroba-mikroba yang ada di lahan,” jelas perempuan kelahiran Jakarta, 3 Maret 1963 ini.

Pada penelitian sebelumnya, telah ditemukan beberapa spesies mikroba antagonis yang diyakini dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dan dapat menekan patogen. Beberapa mikroba antagonis yang berpotensi tersebut kemudian Prof. Hersanti formulasikan dengan partikel nano untuk meningkatkan kinerja dari mikroba antagonis, yang juga dapat  digunakan sebagai pupuk tanaman. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Prof. Hersanti dan tim, mengingat banyak penelitian sebelumnya yang menunjukan bahwa partikel nano dapat mematikan mikroba antagonis.

“Kami sedang meneliti  partikel-partikel nano yang tidak bersifat toksik terhadap mikroba antagonisnya dan juga mempunyai pengaruh positif dalam pertumbuhan tanaman,” ungkap Prof. Hersanti.

Campuran partikel nano dengan mikroba antagonis diformulasikan oleh Prof. Hersanti dalam bentuk larutan. Formula ini digunakan untuk merendam benih kentang, agar tanaman terlindungi dari serangan patogen. Melalui perendaman diharapkan juga  mikroba antagonis dapat menginduksi ketahanan tanaman terhadap patogen.

“Intinya, kita ingin sedini mungkin memberi perlakukan ke tanaman kita, supaya nanti kalau tanaman kita di lapangan sudah terlindungi,” jelas Prof. Hersanti.

Meski belum diaplikasikan pada tanaman kentang secara langsung, namun uji laboratorium menunjukkan bahwa mikroba antagonis yang dicampur dengan partikel nano lebih menghambat perkembangan bakteri Ralstonia solanacearum  secara in vitro.

“Jadi lebih menghambat, si patogennya tidak berkembang,” ungkap Prof. Hersanti.

Pada penelitian ALG tahun ketiga, direncanakan akan dilakukan penelitian secara in vivo yaitu dengan menguji pada tanaman kentang. Prof. Hersanti pun mengakui masih perlu penelitian yang panjang dan berkesinambungan agar diperoleh suatu formulasi nano partikel yang tepat sebagai bahan pembawa mikroba antagonis untuk melindungi tanaman dari serangan hama dan patogen. *

Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh