Ujian Naskah Disertasi, a.n. Saudari: Sesilia Anita Wanget (150130100020)

yang akan diselenggarakan pada :

  • H a r i : Jumat
  • Tanggal : 21 November 2014
  • Pukul : 13.00 - selesai
  • Tempat : Ruang Sidang Dekanat Lt.2 Fakultas Pertanian Unpad

Judul  :
“Keragaman Genetik dan Stabilitas Karakter Hasil serta korelasinya dengan Asam Lemak tak jenuh dan Isoflavon pada Kacang Tanah ( Arachis hypogaea L. )"

 
By Arief Anshory Yusuf  on 

The rapid development of oil palm plantation has been helping the Indonesian economy in terms of export, economic growth and poverty reduction. However, it has side effect. First, it has contributed to the increasing rate of deforestation as some significant portion of the new oil palm land are converted from forested land. This is the tention to our enviroment. Secondly, because resource dependence tend to be associated with conflict, oil palm development can also create social tention and contribute to the occurrence of conflict.

Rashesh Shrestha and colleagues studied the extent to which palm oil development is associated with the occurrence of conflict. The finding of this study was presented in the SDGs seminar series on Friday, 26 April 2019, jointly hosted by SDGs Center and Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. Dr. Rashes is an economist at Economics and Research Institute of ASEAN and East Asia (ERIA) a think tank, funded by Japanese government based in Jakarta. The discussant of the paper was Dr. Ronnie Natawidjaja, a senior lecturer and researcher from UNPAD’s Faculty of Agriculture. The seminar was chaired by Dr. Ernah, lecturer of Faculty of Agriculture and Senior Researcher of the Economy and Environment Institute (EEI) INDONESIA.

In his presentation, Dr. Rashesh Shrestha and colleauges theorizes that the production technology of palm oil encourages violence by generating a predatory political economy. In spite of palm oil being a legal bulk commodity, its relatively capital-intensive nature, its labor organization requirements, and the oil palm lifecycle provide opportunities for multiple actors to engage in criminal and collusive practices aimed at capturing rents generated by the industry.

Using newly available panel data on the expansion of Indonesian palm oil plantation coverage from 2005 to 2014 derived from satellite imagery along with survey data aggregated to the subdistrict level, this study show that plantation expansion indeed generates an increased incidence of resource conflict. Using a panel estimation empirical strategy to control for subdistrict heterogeneity and variation over time, they find that the relationship between plantation expansion and conflict is increasing but non-linear over time.

To understand the causal mechanisms, the study also conducted qualitative investigations in several locations, interviewing members of local communities, plantation staff, police and government officials. We found three main patterns of violence, all intimately tied to the predatory political economy of palm oil: conflict over land use, inter-ethnic violence, and criminal or mafia violence, the last of which was the most significant.

Ronnie Natawidjaja argued that the narration of potential conflicts created by palm oil need to be anticipated with precaution because it may be added as intelectual arguments againts palm oil development. The study needs to be sharpened, among others, in terms of making sure that the conflicts are truly attributed to palm oil development and not to common development problems as conflicts are naturally not unique to the context of oil palm.

The seminar has provided new insights into the relationships between agrarian production technologies, political order, and violence. The event has also left homework for researchers working SDGs to think again the true benefit cost of oilpalm expansion in particular or natural resource intensive development in general. As the three pillar of SDGs: economy, social, and environment are equally important, managing potential tentions between these three pillars, particularly in the context of palm oil development are topics urgently need to be more researched for better policy recommendation.

Bertempat di Bale Sawala Unpad, pkl. 09.00 - 12.00 WIB sekitar 250 orang peserta yang terdiri dari Mahasiswa fakultas pertanian dan kedokteran, jajaran pimpinan dan staf Badan Karantina serta para Dosen dan pimpinan Fakultas Unpad memadati ruangan menghadiri kuliah umum mengenai Badan Karantina serta dilanjutkan dengan penandatanganan mou antara Rektor Unpad dan Kepala Badan Karantina Pertanian RI dan pks faperta dgn badan karantina. Berita terkait http://www.unpad.ac.id/2018/11/unpad-jalin-kerja-sama-dengan-badan-karantina-pertanian-ri/

[unpad.ac.id, 24/10/2018] Untuk mendukung kegiatan Tridarma Perguruan Tinggi, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran menjalin kerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan (UBT).

Dekan Fakultas Pertanian Unpad Dr Ir. H Sudarjat MP (kedua dari kiri) bersama Manajer Riset, Pengabdian Kepada Masyarakat, Inovasi dan Kerja Sama Faperta Unpad Dr.rer.pol Ernah, M.Si., (kiri) usai penandatanganan Perjanjian Kerja Sama dengan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan (UBT) Dr. Etty Wahyuni di kampus UBT, Tarakan, Senin (11/10) lalu

Perjanjian Kerja Sama antara kedua belah pihak ditandatangani oleh Dekan Fakultas Pertanian Unpad Dr Ir. H. Sudarjat, MP, dengan Dekan Fakultas Pertanian UBT Dr. Etty Wahyuni M.S,. M.P., di kampus UBT, Tarakan, Senin (11/10) lalu.

Pada kesempatan tersebut, Dekan Faperta Unpad mengungkapkan bahwa kerja sama ini bertujuan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan kolaborasi riset antar universitas.

Sementara itu, Manajer Riset, Pengabdian Kepada Masyarakat, Inovasi dan Kerja Sama Faperta Unpad Dr.rer.pol Ernah SP.,MSi. mengungkapkan bahwa kunjungan ke UBT tidak hanya untuk penandatanganan Perjanjian Kerjasama tetapi juga dalam rangka penjajakan perpanjangan nota kesepahaman antara Unpad dan Universitas Borneo Tarakan. Diharapkan kerja sama ini kedepannya akan berkesinambungan dan bermanfaat bagi kedua belah pihak.*

Rilis/art

 

 

Perubahan iklim (climate changes) merupakan salah satu fenomena perubahan unsur-unsur iklim terutama yang disebabkan oleh aktivitas manusia, akibatnya terjadi cuaca ekstrim (banjir dan kekeringan), pergeseran musim, dan naiknya muka air laut yang berdampak pada kegagalan panen. Upaya mengurangi dampak pada areal pertanian dapat dilakukan melalui strategi adaptasi yang tepat, antara lain peningkatan kapasitas petani dan teknologi tepat guna ramah iklim yang diinisiasi oleh CRAIIP—Climate Resilient Agriculture Investigation and Innovation Project. CRAIIP merupakan konsorsium antara IPPHTI-UNPAD, Pusbinlat Motivator GT-UNHAS, dan Humboldt-Universitaet zu Berlin, Jerman untuk mendampingi petani yang paling rentan di Pulau Jawa (Pangandaran dan Cilacap) dan Sulawesi (Toraja).

  publish

Kegiatan tersebut di atas merupakan laboratorium lapangan petani sebagai bagian dari jendela teknologi untuk memperkenalkan teknologi-teknologi dalam rangka meminimalisir permasalahan yang terjadi akibat perubahan iklim. Petani didorong dan dimotivasi untuk meningkatkan kapasitasnya sebagai petani yang kreatif, inovatif dan mandiri. Kegiatan CRAIIP sudah berlangsung sejak Juli 2017 bersama-sama dengan petani peneliti sebagai pelaku utama dalam menetukan prioritas topik penelitian, merencanakan, melaksanakan, memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan.

Dalam rangka diseminasi praktik terbaik dari kegiatan ini, maka dilakukan seminar nasional CRAIIP dengan tema “Jendela Teknologi sebagai Upaya Membangun Sinergisme antara Petani dan Peneliti dalam Kegiatan Adaptasi Perubahan Iklim pada Sektor Pertanian” pada hari Selasa tanggal 23 Oktober 2018 bertempat di Aula Student Center Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Peserta seminar adalah para petani termasuk pelaku kegiatan CRAIIP, peneliti/dosen, himpunan mahasiswa Agronomi Nasional, dan beberapa instansi seperti dari Pemda Pangandaran, Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran dan Provinsi Jawa Barat, Balai Besar Penelitian Padi, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat, Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat, serta organisasi tani lainnya di Indonesia. Kegiatan CRAIIP National Conference meliputi pameran, presentasi proses dan hasil kegiatan serta presentasi dari Kepala Balai Penelitian Tanaman Padi.
Beberapa pencapaian sampai saat ini seperti: (1) diidentifikasi dan dimanfaatkannya beberpa pupuk hijau seperti Azolla pinnata, Sesbania rostrata, dan Tithonia diversifolia untuk meningkatkan kesehatan tanah oleh petani, (2) terseleksinya padi dan cabai varietas lokal dan unggul nasional yang toleran terhadap perubahan iklim, (3) meningkatnya kapasitas petani dalam mengidentifikasi masalah dan merumuskan solusi.
Program-program dan kebijakan pertanian di Indonesia diharapkan melakukan penyebarluasan model yang telah dikembangkan oleh program CRAIIP sesuai dengan Undang-undang no 19 tahun 2013 tentang perlindungan dan pemberdayaan petani.

publish2

  Jatinangor, 23 Oktober 2018

  IPPHTI Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia
  (CP: Kustiwa Adinata)

  Pusbinlat Motivator Gereja Toraja (CP: Ir. Tandu Ramba)
  Universitas Padjadjaran (CP: Dr. Ir. Neni Rostini, MS.)
  Universitas Hasanuddin (CP: Prof. Dr. Ir. Kaimuddin, M.Si.)
  Humboldt-Universitaet zu Berlin (CP: Dr. Silke Stoeber)

 

craiip

Ada yang istimewa dengan Dies Natalis Faperta kali ini, dimana angka 59 menjadi angka keramat karena Fakultas Pertanian, Sabtu 1 September merayakan Hari jadinya yang ke 59 terhitung sejak kelahirannya di tahun 1959. Fakultas Pertanian merupakan Fakultas Pertama yang pindah ke Jatinangor dan sekarang telah berkembang pesat dengan mempunyai 5 Program Studi Sarjana hingga Doktor.

Satu hal yang selalu dipelihara sampai saat ini yaitu eratnya silaturahmi dengan para Alumni, kerjasama yang baik dan saling membantu tetap dibina sehingga para fresh Graduate dapat tersalurkan ke berbagai bidang Industri baik Pertanian maupun yang non pertanian melalui banyak peran serta para Alumni.

Acara yang dihadiri oleh para MABA 2018, Staff Tenaga Kependidikan dan Dosen, para purnabakti, para Alumni terasa sangat hangat terutama acara-acara yang melibatkan semua pihak seperti senam bugar bersama, lomba merias tumpeng dan pembagian door prize.  Berikut link Photo-photo kegiatan Acara Dies Natalis Faperta yang ke 59 https://photos.app.goo.gl/zEdPSGZAHps2xSZh6 

Sebuah Balai Desa yang berlokasi di Desa Ciganjeng Kecamatan Padaherang Kabupaten Pangandaran mendadak ramai dipenuhi banyak orang. Bagaimana tidak, puluhan petani di desa Ciganjeng dan petani dari desa lain berdatangan untuk menghadiri kegiatan bertema: “Promosi  konsep Jendela Teknologi dan Temu Lapang Petani Dalam Rangka Meningkatkan Ketahanan Pangan Dari Perubahan Iklim Di Daerah Otonom Baru Kabupaten Pangandaran”.  Kegiatan yang diselenggarakan adalah atas dasar kesepakatan kerjasama berdasarkan surat perjanjian kerjasama antara Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) dengan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran nomor 7241/UN6.E/KS/2017 dan 04/CRAIIP IPPHTI/VI SC/2017 tentang Climate Resilience Agriculture Investigation and Innovation Project – CRAIIP.

workshopangandaran

Kegiatan Promosi Konsep Jendela Teknologi dan Temu Lapang Petani tersebut merupakan sarana evaluasi dari kegiatan CRAIIP yang telah dilaksanakan dari mulai Juli 2017 sampai dengan saat ini. Kegitan CRAIIP di Sponsori Oleh Brot Fűr Die Welt dan Diakonielembaga donor dari negara Jerman. Selain Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Humboldt Universität zu Berlin terlibat dalam kegitan CRAIIP. Tujuan utama dari kegiatan CRAIIP adalah untuk meningkatkan kapasitas petani dalam mengatasi perubahan iklim yang berdampak buruk terhadap sistem pertanian terutama di wilayah pangandaran. Untuk mencapai teujuan tersebut, peran perguruan tinggi sangat diperlukan sebagai sarana transfer teknologi kepada masyarakat sesuai dengan tridarma perguruan tinggi yaitu pendidikan dan pembelajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat.

Kegiatan yang diselenggarakan pada tanggal 21 Agustus 2018 tersebut berlangsung meriah. Di luar aula terdapat pameran-pamaeran teknologi yang telah dilakukan oleh petani selama kegiatan CRAIIP. Teknologi seperti pupuk organik buatan petani sampai perangkat perangkat uji sederhana serta hasil penelitian petani di pamerkan. Dalam kesempatan Dr. Ir. Neni Rostini, MS., selaku koordinator kegiatan beserta tim ahli yaitu Prof. Dr. Ir. Tualar Simarmata, MS., dan Dr. Ir. Mieke Rochimi Setiawati, MP. memaparkan hasil penelitian berbasis partisipasi petani yang telah dilakukan selama dua musim tanam.

Penilitian yang dilakukan di Desa Ciganjeng adalah untuk menguji varietas-varietas yang beradaptasi baik di wilayah desa Ciganjeng serta untuk melihat pengaruh pupuk hijau—green manure Azolla pinata dan Sesbania rostrata terhadap pertumbuhan tanaman padi. Hasil penelitian tersebut merekomendasikan dua varietas yaitu Mendawak dan Ciherang yang beradaptasi dengan lingkungan Ciganjeng. Sementara untuk pengaruh pupuk hijau Azolla dan Sesbania selama dua musim tanam pengujian belum terlihat nyata pengaruhnya. Hal tersebut diduga akibat respon tanaman terhadap pupuk hijau lebih lambat karena pupuk hijau bersifat slow release sehingga perlu pemupukan terus menerus dalam jangka waktu cukup lama. Walaupun demikian, hasil analisis tanah yang telah dilakukan selama penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk hijau Azolla dan Sesbania mampu meningkatkan kandungan C organik dan N total dalam tanah. Selain itu yang cukup menggembirakan adalah rata-rata hasil perhektar selama pengujian untuk varietas mendawak adalah 7,02 ton/ha sementara untuk varietas Ciherang adalah 6,22 ton/ha lebih tinggi dari rata-rata produksi perhektar di desa Ciganjeng yang kurang dari 5 ton/ha.

Melalui kegitan CRAIIP diharapkan petani dari kelompok tani Taruna Tani Mekarbayu yang tergabung sebagai petani peneliti dapat  meningkatkan kapistasnya sebagai petani dan  mampu beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim melalui teknologi-teknologi tepat guna. Selain itu petani-petani peneliti diharapkan bisa menularkan ilmu dan teknologi yang mereka peroleh kepada petani lain di sekitar (Qys).  

Pengguna

Masuk