Himpunan Mahasiswa Klinik Tanaman Faperta bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan (Himatan) Faperta Unpad pada hari Sabtu, 13 Oktober 2018 di Dusun Pasirkaliki Desa Genteng telah mengadakan penyuluhan yang  bertemakan “Pengaruh dan pengecekan pH di lahan” dalam salah satu rangkaian acara 15 Tahun Klintan Mengabdi dengan pemateri Irwantha Sihombing (Agro 2015).

Kegiatan ini dilakukan guna memberikan informasi penanganan permasalahan pH tanah khususnya di lahan pertanaman. Hal ini penting untuk dilakukan karena Dusun Pasirkaliki diketahui sebagai dusun potensial dalam memproduksi komuditas hortikultura seperti cabai dan tomat.

Dengan adanya acara ini, diharapkan masyarakat khususnya yang berprofesi pada bidang pertanian dapat memahami dan mengaplikasikan pengurukuran pH pada lahan pertanian juga dapat mengatasi permasalahan yang terjadi.

Narahubung

  • Line     : krupuk2/ najma.sq
  • WA     : 085846446013 (Nining)/ 08818294670 (Najma)
  • Telpon : 082128600237 (Nining)/ 08818294670 (Najma)

3

Bertempat di Dusun Pasirkaliki Desa Genteng pada Senin, 23 Juli 2018 lalu Himpunan Klinik Tanaman Faperta Unpad mengadakan kegiatan penyuluhan yang bertemakan “Pengendalian Lalat Buah pada Tanaman Cabai dengan Menggunakan Atraktan” yang adalah salah satu rangkaian kegiatan 15 Tahun Klintan Mengabdi dengan pemateri Dr. Agus Susanto, SP., M.Si.

Antusiasme peserta dalam kegiatan ini terlihat dari peran aktif masyarakat dalam bertanya dan juga jumlah peserta yang hadir. Tidak hanya dari kalangan masyarakat, beberapa Dosen Fakultas Pertanian Unpad turut hadir dalam acara ini.

Materi yang disampaikan adalah pemanfaatan Atraktan sebagai upaya pengendalian Lalat Buah. Hal ini disebabkan Dusun Pasirkaliki diketahui menjadi salah satu dusun potensial dalam memproduksi cabai dan tomat yang rentan terjangkit lalat buah. Namun, dalam pengendalianya masyarakat masih mengandalkan pestisida untuk mengendalikan hama tersebut. Sehingga dibutuhkan pemberian edukasi tentang pengendalian alternatif yang ramah lingkungan dan dapat menekan pemberian pestisida secara berlebihan.

Narahubung
Line : krupuk2/ najma.sq
WA : 085846446013 (Nining)/ 08818294670 (Najma)
Telpon : 082128600237 (Nining)/ 08818294670 (Najma)

Proses Pembuatan Lilin Aroma Terapi

“Pempro Training”
Pelatihan Pembuatan Lilin Aroma Terapi Pengusir Nyamuk
Kali ini event Pempro Training yang dislenggarakan oleh Divisi Pengembangan Produk Klinik Tanaman, Departemen Hama dan Penyakit Tanaman Universitas Padjajaran mengambil tema tentang urban pest. Apa itu urban pest? Urban pest adalah serangga yang hidup berdampingan dengan manusia yang keberadaannya dianggap mengganggu dan merugikan sehingga dapat disebut hama, tutur Neng Sri Wedayani. Topik yang dipilih dalam kesempatan tersebut adalah “Pembuatan Lilin Aroma Terapi Pengusir Nyamuk”.
Pembuatan lilin aroma terapi ini sangat mudah dan tidak memakan waktu lama. Bahan dan alat yang diperlukan pun sangat sederhana seperti, paraffin solid, pewarna lilin, pewangi yang repellent terhadap nyamuk contoh (lavender essence, dan jeruk limau essence), wadah dan kompor. Anggota-anggota dari divisi Pengembangan Produk Klinik Tanaman mengajarkan proses pembuatannya kepada para peserta training yang diikuti oleh Anggota Muda Klinik Tanaman, Pengurus Harian Klinik Tanaman, dan beberapa anggota Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati (HMRH) dari ITB.
Tahap pembuatan lilin aroma terapi ini diawali dengan memanaskan paraffin solid untuk mendapatkan bahan lilin cair. Setelah mencair, masukan pewarna lilin untuk menambah nilai estetik dari lilin tersebut. Dalam pemberian pewarna lilin tersebut, tidak terdapat takaran yang pasti, namun untuk mendapatkan warna yang indah hanya perlu menambahkan sedikit saja pewarna lilin, karena jika terlalu banyak maka warna yang dihasilkan akan berwarna lebih gelap. Pewarna lilin dan paraffin di aduk sambil dipanaskan, jika dirasa sudah tercampur angkat bahan tersebut dengan menggunakan kain kemudian tuangkan ke dalam cetakan yang sudah terdapat sumbu yang terbuat dari benang kasur dan ujung benang diikatkan pada sebatang lidi. Untuk aroma yang dihasilkan oleh lilin tersebut dapat menggunakan essens cair yang diteteskan secukupnya ke dalam lilin tersebut. Tunggu sampai lilin tersebut mengeras, kemudian lilin sudah siap di gunakan.
Antusiasme para peserta training meningkat ketika seluruh peserta diberikan kesempatan untuk mencoba membuat lilin aroma terapi dengan kreatifitasnya sendiri. Hasil dari karya tiap peserta di nilai oleh panitia, lilin yang paling rapih, cantik, dan menariklah yang memenangkan penilaian juri. Event “Pempro training kali ini menambah wawasan saya tentang urban pest yang ternyata pengendaliannya bisa dilakukan dengan cara sederhana seperti ini” ujar Maura salah satu peserta pempro training. (Khairunissa Ainun/AM)

KAJIAN ILMIAH “DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP POPULASI HAMA PADA TANAMAN SAYURAN“

Pada hari Kamis, 17 September 2015 Divisi Penalaran Pertanian (LARPA) Klinik Tanaman HPT Faperta Unpad mengadakan kegiatan Kajian Ilmiah yang merupakan salah satu agenda rutin yang ditujukkan untuk seluruh Anggota Klinik Tanaman. Tema pada kajian kali ini adalah “Dampak Perubahan Iklim terhadap Populasi Hama” dengan pemateri Dr. Agus Susanto, SP., M.Si. Kegiatan yang dilakukan berupa diskusi mengenai populasi hama yang ditemukan pada tanaman sayuran di daerah Jawa Barat.
Pada kegiatan ini dilakukan di Ruang Kuliah lantai 2 Gedung Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Faperta Unpad, Jatinangor. Kegiatan ini dihadiri oleh para Anggota Muda dan Pengurus Harian Klinik Tanaman (PHKT) yang dipandu oleh Arya sebagai moderator. Acara ini diawali dengan sambutan dari ketua pelaksana yaitu Ulfah Khaerullah.
Pada kajian ini, bapak Agus memaparkan materi tentang perubahan temperatur yang dapat menyebabkan fluktuasi populasi hama pada daerah tersebut. Beliau menuturkan bahwa pada musim kemarau, hama yang menyerang tanaman bawang seperti Spodoptera oxigua dapat menghabiskan satu lahan tanaman bawang dalam kurun waktu tiga hari, dan apabila hama tersebut tidak dikendalikan secara terpadu maka akan menimbulkan kerugian yang amat besar. Untuk mengendalikan pelonjakan OPT yang diakibatkan oleh naiknya temperatur tersebut perlu dilakukan pengendalian secara terpadu. Adanya ambang batas ekonomi menjadikan batasan dalam pengendalian tersebut, sehingga pengendalian OPT tidak identik dengan pestisida sintetik. Hal tersebut selaras dengan yang dituturkan oleh Pak Agus “Dalam pengendalian OPT ini tidak langsung menggunakan pestisida, perlu adanya pengendalian secara terpadu, karena pestisda pun dapat memiliki dampak buruk”
Setelah pemaparan tersebut peserta diberi kesematan untuk berdiskusi dan mengkaji permasalahan yang ada dalam topik tersebut. Para peserta sangat antusias dalam bertanya kepada pemateri. Acara diakhiri oleh moderator dengan kesimpulan dari hasil diskusi tersebut, dilanjutkan dengan pemberian sertifikat kepada pemateri sebagai tanda terima kasih sekaligus penutup kegiatan kajian ilmiah kali ini. Diharapkan dengan diadakannya acara kajian ilmiah ini ilmu yang telah diberikan dapat meningkatkan wawasan anggota Klinik Tanaman.
Penulis : Ibrahim Aji (Anggota Muda Klinik Tanaman)