Bertempat di Bale Sawala Unpad, pkl. 09.00 - 12.00 WIB sekitar 250 orang peserta yang terdiri dari Mahasiswa fakultas pertanian dan kedokteran, jajaran pimpinan dan staf Badan Karantina serta para Dosen dan pimpinan Fakultas Unpad memadati ruangan menghadiri kuliah umum mengenai Badan Karantina serta dilanjutkan dengan penandatanganan mou antara Rektor Unpad dan Kepala Badan Karantina Pertanian RI dan pks faperta dgn badan karantina. Berita terkait http://www.unpad.ac.id/2018/11/unpad-jalin-kerja-sama-dengan-badan-karantina-pertanian-ri/

[unpad.ac.id, 24/10/2018] Untuk mendukung kegiatan Tridarma Perguruan Tinggi, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran menjalin kerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan (UBT).

Dekan Fakultas Pertanian Unpad Dr Ir. H Sudarjat MP (kedua dari kiri) bersama Manajer Riset, Pengabdian Kepada Masyarakat, Inovasi dan Kerja Sama Faperta Unpad Dr.rer.pol Ernah, M.Si., (kiri) usai penandatanganan Perjanjian Kerja Sama dengan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan (UBT) Dr. Etty Wahyuni di kampus UBT, Tarakan, Senin (11/10) lalu

Perjanjian Kerja Sama antara kedua belah pihak ditandatangani oleh Dekan Fakultas Pertanian Unpad Dr Ir. H. Sudarjat, MP, dengan Dekan Fakultas Pertanian UBT Dr. Etty Wahyuni M.S,. M.P., di kampus UBT, Tarakan, Senin (11/10) lalu.

Pada kesempatan tersebut, Dekan Faperta Unpad mengungkapkan bahwa kerja sama ini bertujuan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan kolaborasi riset antar universitas.

Sementara itu, Manajer Riset, Pengabdian Kepada Masyarakat, Inovasi dan Kerja Sama Faperta Unpad Dr.rer.pol Ernah SP.,MSi. mengungkapkan bahwa kunjungan ke UBT tidak hanya untuk penandatanganan Perjanjian Kerjasama tetapi juga dalam rangka penjajakan perpanjangan nota kesepahaman antara Unpad dan Universitas Borneo Tarakan. Diharapkan kerja sama ini kedepannya akan berkesinambungan dan bermanfaat bagi kedua belah pihak.*

Rilis/art

 

 

Perubahan iklim (climate changes) merupakan salah satu fenomena perubahan unsur-unsur iklim terutama yang disebabkan oleh aktivitas manusia, akibatnya terjadi cuaca ekstrim (banjir dan kekeringan), pergeseran musim, dan naiknya muka air laut yang berdampak pada kegagalan panen. Upaya mengurangi dampak pada areal pertanian dapat dilakukan melalui strategi adaptasi yang tepat, antara lain peningkatan kapasitas petani dan teknologi tepat guna ramah iklim yang diinisiasi oleh CRAIIP—Climate Resilient Agriculture Investigation and Innovation Project. CRAIIP merupakan konsorsium antara IPPHTI-UNPAD, Pusbinlat Motivator GT-UNHAS, dan Humboldt-Universitaet zu Berlin, Jerman untuk mendampingi petani yang paling rentan di Pulau Jawa (Pangandaran dan Cilacap) dan Sulawesi (Toraja).

  publish

Kegiatan tersebut di atas merupakan laboratorium lapangan petani sebagai bagian dari jendela teknologi untuk memperkenalkan teknologi-teknologi dalam rangka meminimalisir permasalahan yang terjadi akibat perubahan iklim. Petani didorong dan dimotivasi untuk meningkatkan kapasitasnya sebagai petani yang kreatif, inovatif dan mandiri. Kegiatan CRAIIP sudah berlangsung sejak Juli 2017 bersama-sama dengan petani peneliti sebagai pelaku utama dalam menetukan prioritas topik penelitian, merencanakan, melaksanakan, memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan.

Dalam rangka diseminasi praktik terbaik dari kegiatan ini, maka dilakukan seminar nasional CRAIIP dengan tema “Jendela Teknologi sebagai Upaya Membangun Sinergisme antara Petani dan Peneliti dalam Kegiatan Adaptasi Perubahan Iklim pada Sektor Pertanian” pada hari Selasa tanggal 23 Oktober 2018 bertempat di Aula Student Center Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Peserta seminar adalah para petani termasuk pelaku kegiatan CRAIIP, peneliti/dosen, himpunan mahasiswa Agronomi Nasional, dan beberapa instansi seperti dari Pemda Pangandaran, Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran dan Provinsi Jawa Barat, Balai Besar Penelitian Padi, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat, Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat, serta organisasi tani lainnya di Indonesia. Kegiatan CRAIIP National Conference meliputi pameran, presentasi proses dan hasil kegiatan serta presentasi dari Kepala Balai Penelitian Tanaman Padi.
Beberapa pencapaian sampai saat ini seperti: (1) diidentifikasi dan dimanfaatkannya beberpa pupuk hijau seperti Azolla pinnata, Sesbania rostrata, dan Tithonia diversifolia untuk meningkatkan kesehatan tanah oleh petani, (2) terseleksinya padi dan cabai varietas lokal dan unggul nasional yang toleran terhadap perubahan iklim, (3) meningkatnya kapasitas petani dalam mengidentifikasi masalah dan merumuskan solusi.
Program-program dan kebijakan pertanian di Indonesia diharapkan melakukan penyebarluasan model yang telah dikembangkan oleh program CRAIIP sesuai dengan Undang-undang no 19 tahun 2013 tentang perlindungan dan pemberdayaan petani.

publish2

  Jatinangor, 23 Oktober 2018

  IPPHTI Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia
  (CP: Kustiwa Adinata)

  Pusbinlat Motivator Gereja Toraja (CP: Ir. Tandu Ramba)
  Universitas Padjadjaran (CP: Dr. Ir. Neni Rostini, MS.)
  Universitas Hasanuddin (CP: Prof. Dr. Ir. Kaimuddin, M.Si.)
  Humboldt-Universitaet zu Berlin (CP: Dr. Silke Stoeber)

 

craiip