Berlin 1 Juli 2019,

Perubahan iklim Saat ini bukan lagi menjadi perdebatan tentang keberadaannya tetapi sudah menjadi permasalahan bersama antar komunitas, antar instansi, antar negara bahkan global untuk mendapat penanganan serius. Perubahan iklim (climate changes) merupakan salah satu fenomena alam dimana terjadi perubahan nilai unsur-unsur iklim baik secara alamiah maupun yang dipercepat akibat aktifitas manusia di muka bumi. Perubhan iklim yang terjadi saat ini membawa dampak buruk bagi pertanian di Indonesia khususnya untuk wilayah pesisir.
Menurut Prof. Tualar Simarmata Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran perubahan iklim ini menyebabkan naiknya permukaan laut dan berpengaruh langsung pada lahan-lahan sawah yang berada di pesisir pantai. Air laut yang masuk kedalam areal persawahan dapat menyebabkan tingkat salinitas sawah meningkat dan hal tersebut sangat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaan padi.
Untuk meminimalisir dampak perubahan iklim pada pertanian padi, Dr. Neni Rostini Dosen Fakultas pertanian Universitas Padjadjaran menjelaskan bahwa perlu beberapa strategi seperti pemilihan varietas unggul yang adaptif terhadap perubahan iklim, rekayasa teknologi budidaya yang ramah lingkungan, dan peningkatan kapasitas petani. Untuk melaksanakan strategi-strategi tersebut perlu dilakukan penelitian partisipatif yang melibatkan petani dan akademisi.
Penelitian dengan melibatkan petani telah dilakukan oleh Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran tahun lalu. Bersama JAMTANI—Jaringan Masyarakat Tani Indonesia—salah satu NGO pertanian yang berlokasi di Pangandaran, UNPAD melakukan kegiatan sekolah lapang petani. Kegiatan partisipatory riserach berjudul Climate Resilient Agriculture Investigation and Innovation Project—CRAIIP juga didukung oleh Universitas Terkemuka di Jerman yaitu Humboldt Universitaet zu Berlin melalui SLE—Center of Rural Depelopment. Hasil dari kegiatan tersebut cukup terasa manfaatnya bagi masyarakat. Melalui kegiatan tersebut terpilih varietas mendawak sebagai varietas dengan performa terbaik pada cekaman salinitas. Telah banyak petani di sekitar yang mengadopsi teknologi-teknologi pada kegiatan CRAIIP.
Kegiatan penelitian partisipatif perlu terus dikembangkan ucap Dr.rer.nat Ahmad Saufi, Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia Jerman. Sebagai negara berkembang Indonesia Perlu dukungan dari Negara maju seperti Jerman. “Pertukaran ilmu dan teknologi dari dua negara yang berbeda tentu akan sangat berguna”, pungkasnya.
Sebagai Negara berkembang biasanya Indonesia hanya menjadi negara penerima donasi dari negara maju. Hal tersebut perlu dirubah menurut Saufi. Kedepan Indonesia harus bisa memberikan kontribusi lebih ketika mejalin kerjasama dengan Negara lain. Mengetahui keberhasilan kegiatan CARIIP yang telah dilakukan, Saufi akan berupaya mewujudkan kolaborasi penelitian internasional yang telah dibangun oleh Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran.

Pengguna

Masuk